Kewibawaanorang tua dapat dilihat dari dua sisi yaitu. a. Kewibawaan pendidikan. Dalam hal ini orang tua bertujuan memelihara keselamatan anak-anaknya, agar mereka dapat hidup terus dan berkembang secara jasmani dan rohaninya menjadi manusia dewasa. Pembawa pendidikan itu berakhir jika anak itu sudah menjadi dewasa.
MenjelaskanKesimpulan Isi Iklan Media Cetak. Untuk membuat iklan yang baik dan menarik ada beberapa hal yang harus diperhatikan sehingga iklan akan efektif dan memberikan manfaat terhadap produk yang ditawarkan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat sebuah iklan, antara lain sebagai berikut. Kalimatnya singkat dan jelas.
Jakarta-. Fardhu kifayah dan fardhu 'ain memiliki arti yang berbeda. Keduanya adalah pembagian ibadah dan amal. Menurut buku 'Akhlaqul Karimah' oleh Hamka, Fardhu kifayah adalah tugas kewajiban
Mengutippendapat seperti: Bozman, bahwa agama dalam arti luas merupakan suatu penerimaan terhadap aturan-aturan dari pada kekuatan yang lebih tinggi dari manusia. H. Moenawar Cholil lm bukunya "Definisi dan sendi agama" kata dien itu masdar dari kata kerja "daana" yad i enu". Menurut Jughat kata "dien mempunyai arti :
. Jenis-Jenis Makna Kata dan Contohnya dalam Bahasa Indonesia– Penggunaan bahasa untuk berkomunikasi sudah tidak dapat dilepaskan dari kehidupan manusia sehari harinya. Satuan dari bahasa antara lain terdiri atas kata, frasa, dan kalimat. Kata seringkali memiliki makna yang berbeda-beda, tergantung pada konteks apa kata itu digunakan serta kalimat apa yang mengikuti penggunaan kata tersebut. Pengertian Makna Kata Semantik Seperti yang kita ketahui, kata’ merupakan satuan terkecil dalam bahasa yang memiliki arti atau makna. Istilah kata’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI merupakan bahasa yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa. Mansoer Pateda 2001 berpendapat jika istilah makna kata merupakan kata kata dan istilah yang membingungkan. Untuk mengkaji tentang makna kata, terdapat kajian khusus dalam linguistik, yakni kajian semantik. Kajian makna kata menurut penggolongan semantik merupakan cabang linguistik yang secara khusus meneliti dan mengkaji makna kata, asal usul kata tersebut, perkembangan penggunaan kata, serta penyebab terjadinya perubahan makna kata. Abdul Chaer 1994 dan Verhaar 1996 mengemukakan pendapat serupa tentang pengertian semantik, yakni cabang studi linguistic kebahasaan yang membahas arti atau makna. Jenis-Jenis Makna Kata Penggunaan kata yang beragam dalam keseharian menimbulkan makna kata yang beragam pula dilihat dari sudut pandang yang berbeda beda. Jenis jenis makna kata yang secara umum banyak di kenal di masyarakat antara lain makna konotasi, makna denotasi, makna leksikal, makna gramatikal, makna kontekstual, dan sebagainya. Tidak ada penggolongan pasti tentang jenis jenis makna kata. Berbagai ahli di dunia telah mengemukakan pendapatnya mengenai penggolongan makna kata, beberapa di antaranya adalah Abdul Chaer, Geoffrey Leech, serta Dr. Muhammad Mukhtar Umar. Jenis-Jenis Makna Kata menurut Abdul Chaer Abdul Chaer menggolongkan makna kata menjadi 13 jenis, yang meliputi makna leksikal, makna gramatikal, makna kontekstual, makna referensial, makna non-referensial, makna denotatif, makna konotatif, makna konseptual, makna asosiatif, makna kata, makna istilah, makna idiom, dan makna peribahasa. Makna Leksikal Makna Leksikal dapat juga disebut makna sebenarnya. Makna Leksikal merupakan makna yang sesuai dengan hasil observasi indra yang dimiliki manusia, sehingga makna yang tercipta merupakan makna yang sebenarnya, apa adanya, dan terdapat dalam kamus makna dalam kamus sering disebut dengan makna dasr atau makna konkret. Makna ini bersifat tetap dan pasti karena mengikuti kamus yang ada. Kamus yang menjadi acuan dalam bahasa Indonesia yakni Kamus Besar Bahasa Indonesia. Misalnya leksem kuda’ merupakan sejenis binatang berkaki empat yang digunakan sebagai alat transportasi atau air’ bermakna sejenis barang cair yang biasa digunakan untuk keperluan sehari-hari. Contoh lain makna leksikal Makan dalam KBBI – memasukkan makanan pokok ke dalam mulut serta menguyahnya dan menelannya; arti lainnya – memakai, memerlukan, atau menghabiskan waktu, biaya, dan lain sebagainya. Lari dalam KBBI – melangkah dengan kecepatan tinggi; arti lainnya – hilang atau senyap; arti lainnya – pergi keluar tidak dengan cara baik tidak sah, kabur. Tidur dalam KBBI – dalam keadaan berhenti mengaso badan dan kesadarannya biasanya dengan memejamkan mata. Meja dalam KBBI – perkakas perabot rumah yang mempunyai bidang datar sebagai daun mejanya dan berkaki sebagai penyangganya bermacam – macam bentuk dan gunanya. Anak dalam KBBI – keturunn yang kedua; arti lainnya – manusia yang masih kecil; binatang yang masih kecil; arti lainnya – orang yang berasal dari atau dilahirkan di suatu negeri, daerah dan sebagainya. Ajar dalam KBBI – petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui diturut Buah dalam KBBI – bagian tumbuhan yang berasal dari bunga atau pitik biasanya berbiji. Mandi dalam KBBI – membersihkn tubuh dengan air dan sabun dengan cara menyiramkan, merencamkan diri dalam air dan sebagainya. Tenggelam dalam KBBI – masuk terbenam ke dalam air; arti lainnya – karam tentang perahu atau kapal. Makna Gramatikal Sesuai namanya, makna gramatikal merupakan makna yang muncul akibat dari adanya proses gramatikal atau proses tata bahasa. Proses gramatikal antara lain proses kompisisi, proses reduplikasi, proses afiksasi, serta proses komposisi atau kalimatisasi. Misalnya, proses aplikasi awalan prefiks ber- pada kata baju’, menjadi berbaju’, melahirkan makna gramatikal mengenakan atau memakai baju’. Lalu pada kata berkuda’ memiliki makna gramatikal mengendarai kuda. Contoh lain pada proses komposisi kata dasar sate’ dan lontong’, menjadi kata sate lontong,’ menimbulkan makna gramatikal sate bercampur lontong’. Makna Kontekstual Makna kontekstual merupakan makna dari sebuah kata atau leksem yang muncul berdasarkan suatu konteks tertentu. Misalnya makna konteks kata kepala’ akan berbeda antara frasa kepala nenek’, dengan kepala surat’, maupun kepala sekolah’, atau kepala jarum’, dan lain sebagainya. Contoh lainnya, Misal pada kalimat tiga kali empat berapa?’, apabila ditanyakan pada murid sekolah dasar, maka kalimat tersebut memiliki makna menanyakan hasil perkalian matematik antara bilangan tiga dan empat. Sedangkan, apabila pertanyaan tersebut dilontarkan kepada tukang foto, maka kalimat tersebut memiliki makna kontekstual menanyakan harga cetak foto ukuran tiga kali empat centimeter. Makna Referensial Makna referensial memiliki arti, yakni maka yang memiliki referensi atau acuannya dalam dunia nyata. Misalnya kata saya’, pada kalimat “Tadi saya bertemu dengan Ani”, Kata Anwar pada Budi makna kata saya’ mengacu pada Ani, sedangkan pada kalimat “Saya ingin berjumpa dengan dia”, kata Budi makna kata saya’ mengacu pada Budi. Makna Non-referensial Makna non-referensial merupakan lawan dari makna referensial. Makna non-referensial merupakan makna pada kata yang tidak memiliki acuan di dunia nyata. Sebagai contoh kata dan’, atau’, karena’, maka’, sebab’, jika’. Kata kata tersebut tidak memiliki acuan yang jelas. Makna Denotatif Makna denotatif seperti yang telah kita ketahui merupakan makna asli, makna asal, atau pun makna sebenarnya yang diimiliki sebuah kata dan tidak memiliki makna tersembunyi lain di dalamnya. Hampir sama dengan makna leksial, makna denotatif mengacu pada makna yang ada pada kamus atau literatur bahasa lain. Contoh kata bunga’ memiliki artian denotatif tanaman bunga yang tumbuh di taman. Contoh lain makna denotatif 1 Sikat dalam KBBI – pembersih yang dibuat dari bulu ijuk, serabut, dan sebagainya diberi berdasar dan berpegangan bermacam – macam rupa. Sikat gigi merek X diklaim oleh produsennya sebagai sikat gigi yang direkomendasikan oleh empat dari lima dokter gigi di dunia. Noda rendang di bajuku sulit hilang meski telah aku rendam semalaman dan aku sikat berkali – kali. 2 Sapu dalam KBBI – alat rumah tangga dibuat dari ijuk lidi, sabut, dan sebagainya yang diikat menjadi berkas, diberi bertangkai pendek atau panjang untuk membersihkan debu, sampah dan sebagainya. Setiap pagi dan sore hari, ia rutin menyapu halaman rumahnya. Sapu yang dibeli Dita di pasar tadi ternyata kualitasnya jelek, buktinya baru dipakai beberapa jam ijuknya sudah lepas kemana – mana. Sapu terbang hanya ada di dongeng – dongen sihir seperti Harry Potter karangan Rowling. Makna Konotatif Makna konotatif merupakan kebalikan dari makna denotative. Makna konotatif merupakan makna lain yang ditambahkan pada sebuah kata yang berhubungan dengan nilai rasa seseorang atau kelompok yang menggunakan kata tersebut. Misalnya, kata kurus’, ramping’, dan kerempeng’ merupakan kata-kata yang bersinonim. Kata kurus’ mengacu pada keadaan tubuh seseorang yang lebih kecil dari ukuran normal. Kata ramping’ yang bersinonim dengan kata kurus’ memiliki konotasi positif, yaitu nilai yang mengenakkan, atau dengan kata lain oerang akan senang apabila dikatakan ramping. Sedangkan kata kerempeng’ merupakan sinonim kata kurus’ yang memiliki makna konotatif negative, atau orang akan merasa tidak senang atau tidak nyama jika dikatakan kerempeng. Contoh lainnya kata bunga’ yang berarti tanaman yang cantik akan memiliki makna yang sama dengan kata bunga’ pada frasa bunga desa’ yang memiliki arti gadis tercantik atau yang menjadi incaran pemuda di suatu desa. Contoh lain makna konotatif Lagu Gugur Bunga’ diciptakan untuk menghormati dan mengenang jasa para bunga bangsa yang gugur di medan Artinya Lagu Gugur Bunga’ diciptakan untuk menghormati dan mengenang jasa para pahlawan yang gugur di medan perang. Dia merupakan tangan kanan pimpinan organisasi tersebut, sehingga kemampuannya tidak perlu diragukan lagi. Artinya Dia merupakan orang kepercayaan pimpinan organisasi tersebut, sehingga kemampuannya tidak perlu diragukan lagi. SMA 3 Jayakarsa menyapu bersih semua medali emas di ajang Olimpiade Sains Nasional OSN tahun ini Artinya SMA 3 Jayakarsa memenangkan semua medali emas di ajang Olimpiade Sains Nasional OSN tahun ini. Ari berkeringat dingin menunggu giliran wawancara kerjanya siang ini. Artinya Ari gugup menunggu giliran wawancara kerjanya siang ini. Rubah itu tertangkap tangan ketika akan memangsa telur – telur ayam milik warga. Rubah itu tertangkap langsung saat kejadian ketika akan memangsa telur – telur ayam milik warga. Makna Konseptual Makna konseptual merupakan makna yang dimiliki oleh sebuah kata yang terlepas dari konteks maupun asosiasi apapun. Dengan kata lain makna konseptual merupakan makna yang terkandung pada kata yang berdiri sendiri. Misal kata sawah’ memiliki makna ladang atau tempat untuk bercocok tanam padi. Makna Asosiatif Makna asosiatif merupakan makna kata yang muncul karena adanya hubungan kata tersebut dengan hal lain di luar bahasa. Misal pada kata hitam’ yang berasosiasi pada sesuatu yang jahat atau negatif. Begitu pula dengan kata putih’ yang berasosiasi dengan hal hal yang suci, kebenaran, ataupun kebaikan. Makna Kata Makna kata merupakan makna yang bersifat umum, gambaran kasar, dan tidak jelas. Makna ini menjelaskan beberapa kata sebagai kata yang bermakna lazim atau sama. Sebagai contoh pada kalimat tangannya terkilir karena jatuh’ dan lengannya terkilir karema jatuh’, pada kalimat kalimat tersebut kata tumit’ dan kaki’ memiliki makna yang serupa atau dalam istilah lain kata kata tersebut bersinonim. Makna Istilah Makna istilah merupakan kebalikan dari makna kata. Makna istilah bersifat jelas, tidak meragukan, serta hanya digunakan pada suatu bidang keilmuan ataupun kegiatan tertentu saja. Misal kata lengan’ dan tangan’ pada ilmu kedokteran, keduanya merupakan bagian anatomi tubuh tang berbeda. Istilah lengan’ mengacu pada bagian tubuh mulai dari bagian siku sampai ke pangkal bahu, sedangkan istilah tangan’ mengacu pada bagian tubuh mulai dari jari jari tangan hingga ke siku. Makna Idiom Makna idiom atau makna idiomatic merupakan makna kata yang terdapat pada kelompok kata tertentu, di mana makna yang terbentuk berbeda dengan makna asli dari kata tersebut. Asal usul kemunculan makna kata tersebut atau frasa tersebut tidak diketahui. Pengertian makna idiom hampir mirip dengan makna konotasi. Sebagai contoh pada frasa ringan tangan’ bukan berarti tangan tersebut harus memiliki bobot yang ringan, melainkan penggunaan frasa tersebut mengacu pada sifat yang suka menolong’. Makna Peribahasa Makna peribahasa memiliki pengertian yang mirip dengan makna idiom, yakni makna yang timbul karena pembentukan frasa atau kumpulan kata tertenu. Bedanya dengan makna idiom, makna peribahasa memiliki asal usul yang masih dapat ditelusuri. Contoh makna peribahasa terdapat pada kalimat dua orang tersebut bagai anjing dan kucing’, frasa anjing dan kucing’ memiliki makna tidak pernah akur’, makna ini masih berasosiasi bahwa hewan kucing dan anjing pada kenyataannya memang selalu berkelahi ketika bertemu. Contoh lain pada frasa selebar daun kelor’, frasa tersebut bermakna sempit atau kecil, makna ini berasosiasi pada kenyataan jika daun kelor merupakan daun yang kecil. Jenis-Jenis Makna Kata menurut Goeffrey Leech Geoffrey Leech menggolongkan makna kata menjadi tujuh jenis, yang meliputi makna konotatif, makna stilistik, makna afektif, makna refleksi, makna kolokatif, makna konseptual, serta makna tematik. Makna Konotatif Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, makna konotatif merupakan makna lain yang ditambahkan pada sebuah kata yang berhubungan dengan nilai rasa seseorang atau kelompok yang menggunakan kata tersebut. Misal pada kata wanita’ dan perempuan’, di masyarakat pengguunaan kata wanita’ memiliki konotasi positif, sedangkan kata perempuan’ memiliki konotasi yang negatif. Makna Stilistik Makna stilistika merupakan makna yang timbul karena gaya pemilihan kata sehubungan dengan perbedaan sosial strata dan bidang kegiatan di dalam masyarakat. Sebagai contoh penggunaan kata rumah’, pondok’, vila’, keraton’, gubuk’, kediaman’, dan resindensi’. Kata kata tersebut secara umum memiliki artian tempat tinggal manusia, akan tetapi kata keraton’ penggunaannya ditujukan untuk tempat tinggal raja dan ratu, kata vila’ digunakan untuk tempat tinggal selama liburan. gubuk’ digunakan untuk tempat tinggal sederhana’, dan lain sebagainya. Perbedaan penggunaan kata kata tersebut menimbulkan makna yang berbeda. Makna Afektif Makna afektif merupakan makna yang berhubungan dengan perasaan pembicara terhadap lawan bicara atau objek yang dibicarakan. Makna afektif akan lebih terlihat perbedaannya dengan makna lain bila digunakan secara lisan. Sebagai contoh kalimat mohon tenang’ dan tutup mulut kalian’ memiliki pesan yang sama, yakni meminta seseorang untuk diam. Namun, kalimat mohon tenang’ memiliki makna yang terdengar halus, sedangkan kalimat tutup mulut kalian’ memiliki makna dengan konteks yang lebih kasar. Makna Refleksi Makna refleksi merupakan makna yang muncul pada saat penutur merespon apa yang dia lihat. Makna refleksi akan lebih ekspresif ketika digunakan secara lisan, contoh makna refleksi seperti aduh, wah, oh, astaga, ah, yah. Makna Kolokatif Makna kolokatif merupakan makna yang timbul pada kata kata bersinonim, namun penggunaan masing masing kata yang bersinonim tersebut memiliki ciri ciri tertentu. Misalnya kata tampan’ dan cantik’ memiliki makna yang sama, yakni memiliki rupa yang indah atau dikagumi. Akan tetapi kata tampan’ identik dengan pria, sedangkan kata cantik’ identik dengan wanita. Makna Konseptual Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, makna konseptual merupakan makna yang dimiliki oleh sebuah kata yang terlepas dari konteks maupun asosiasi apapun. Dengan kata lain makna konseptual merupakan makna yang terkandung pada kata yang berdiri sendiri. Misal kata kuda’ memiliki makna hewan mamalia berkaki empat yang dimanfaatkan sebagai moda transportasi. Makna Tematik Makna tematik merupakan makna yang disampaikan menurut cara penuturannya atau pun cara penataan pesannya, yang meliputi urutan, fokus, dan penekanan. Nilai komunikatif tersebut dipengaruhi pula oleh penggunaan kalimat aktif dan kalimat pasif. Sebagai contoh pada kalimat Mata kuliah apa yang diajarkan oleh Pak Anang?’ merupakan kalimat tanya yang menekankan pada objek. Sedangkan pada kalimat Siapakah yang mengajar mata kuliah Bahasa Indonesia?’ merupakan kalimat tanya yang menekankan pada subjek. Jenis Jenis Makna Kata menurut Dr. Muhammad Mukhtar Umar Dr. Muhammad Mukhtar Umar mengggolongkan makna kata menjadi lima jenis, yang meliputi makna dasar atau makna asasi, makna tambahan, makna gaya bahasa style, makna nafsi atau makna objektif, serta makna ihaa’i. Makna Dasar atau Makna Asasi Makna dasar atau makna asasi sering disebut pula sebagai makna awal atau makna utama. Makna dasar merupakan makna pokok dari suatu kata. Misal pada kata wanita’ yang memiliki makna dasar manusia, bukan laki-laki, dan dewasa’. Makna Tambahan Makna tambahan merupakan makna yang timbul di luar makna dasarnya. Misal pada kata wanita’ memilki makna tambahan makhluk yang lembut perasaannya, labil jiwanya, dan emosional’ atau dapat juga dimaknai sebagai makhluk yang pintar memasak dan suka berdandan’ Makna Gaya Bahasa Style Makna gaya bahasa merupakan makna yang timbul karena menggunaan bahasa tersebut. Penggunaan bahasa meliputi penggunaan bahasa untuk sastra, penggunaan bahasa resmi, baha pergaulan dan lain sebagainya. Misal dalam bahasa Inggris, penggunaan kata Dad’ digunakan untuk panggilan mesra dari seorang anak untuk ayahnya, sedangkan father’ digunakan sebagai panggilan hormat dan sopan pada ayahnya, sehingga meskipun bersinonim kata dad’ terkesan lebih intim dibandingkan kata father’, jika dalam bahasa Indonesia penggunaan kata dad’ dan father’ memiliki konteks yang sama dengan penggunaan kata ayah’ dan ayahanda’. Makna Nafsi atau Makna Objektif Makna nafsi atau makna objektif merupakan makna yang timbul karena perbedaan ini mengacu pada kata kata dalam bahasa yang membedakan pelafalan kata, seperti bahasa Arab dan bahasa Cina, di mana perbedaan pelafalan suatu kata mempengaruhi makna yang timbul. Makna Ihaa’i Makna Ihaa’I merupakan makna yang berkaitan dengan sudut pandang penggunaannya. Secara ringkas, makna yang masuk dalam makna ihaa’I antara lain makna kontekstual, makna kiasan atau makna peribahasa, dan lain sebagainya. Artikel bahasa lainnya contoh pantun karmina jenis jenis kalimat tanya dan contohnya contoh frasa verba aktif idiom pantun berkait dan contohnya dalam bahasa indonesia contoh klausa dalam bahasa indonesia konjungsi contoh teks anekdot jenis jenis kalimat perintah contoh peribahasa perumpamaan perbedaan akronim dan singkatan beserta contohnya contoh roman singkat cara membedakan pelengkap dan keterangan alur cerita klausa dalam bahasa indonesia contoh frasa verba apositif Sekian artikel yang mengulas tentang jenis jenis makna kata dan contohnya dalam bahasa Indonesia. Semoga artikel ini bermanfaat 🙂
- Frasa adalah satuan gramatikal yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi. Berdasarkan bentuknya, frasa dapat dibedakan menjadi enam macam, tetapi yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah frasa verba dan adjektiva beserta perbedaannya. Tika Hatika dkk dalam buku Membina Kompetensi Berbahasa dan Bersastra Indonesia 2006 menuliskan, frasa adalah satuan gramatik yang terdiri atas dua kata atau lebih. Selain itu, frasa juga merupakan satuan yang tidak melebihi batas fungsi unsur klausa. Maksudnya, frasa itu selalu terdapat dalam satu fungsi unsur klausa, yakni subjek, predikat, objek, pelengkap atau keterangan. Frasa VerbaFrasa verba adalah frasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata kerja. Contohnya bisa dilihat dalam frasa "harus diterapkan". Apabila ditelaah, maka frasa tersebut memiliki distribusi yang sama dengan kata kerja "diterapkan". Arif Yosodipuro dalam Pintar Pidato Kiat Menjadi Orator Hebat 2020 menuliskan, frasa verba adalah frasa yang dibentuk dengan menggabungkan kata kerja dan sebagai pengganti kata kerja dalam suatu kalimat. Frasa verba terbagi menjadi tiga kelompok yakni, frasa verba modifikasi, frasa verba koordinatif dan frasa verba apositif. Berikut penjelasannya. Contoh Frasa verba modifikatif Anita pasti belajar di kamar. Frasa verba koordinatif Ayah pergi ke pasar atau supermarket. Frasa verba apositif digunakan untuk menambah keterangan subjek Reni, sedang salat, tidak menoleh saat dipanggil temannya. Baca juga Mengenal Jenis-jenis Frasa dalam Bahasa Indonesia dan Ciri-cirinya Apa Itu Kalimat Majemuk Pengertian, Jenis dan Contohnya Apa Itu Frasa, Klausa dan Perbedaannya? Frasa AdjektivaFrasa adjektiva adalah frasa yang dibentuk dengan menggabungkan kata sifat dan menambahkan kata keterangan misalnya "agak", "paling", "sangat", "harus". Berdasarkan jenisnya, frasa adjektiva dibagi ke dalam tiga kelompok, yakni frasa adjektiva modifikasi, frasa adjektiva koordinatif dan frasa adjektiva apositif. Contoh Frasa adjektiva modifikasi membatasi sangat besar, paling kecil. Frasa adjektiva koordinatif menggabungkan aman sentosa, kaya raya. Frasa adjektiva apositif Sinta, bunga desa di kampungku, dilamar oleh seorang pengusaha kaya. Perbedaan Frasa Verba dan Frasa Adjektiva Frasa verba dan frasa adjektiva memiliki perbedaan. Yusri dan Mantasiah R dalam buku Linguistik Mikro Kajian Internal Bahasa dan Penerapannya 2020 menuliskan, sesuatu hal dapat dikatakan frasa verba karena unsur penyusun utamanya berupa kata kerja atau verba. Contoh frasa verba adalah "memasak sayur", "menjemur pakaian", "menghitung uang". Sementara frasa adjektiva adalah unsur penyusun utamanya adalah kata sifat atau adjektiva. Berikut adalah contoh frasa adjektiva "gelap gulita", "besar sekali", "cerdas sekali".Baca juga Pengertian Teks Eksposisi dan Jenis-jenisnya Apa Itu Teks Cerita Fantasi, Pengertian, Ciri, Struktur & Jenisnya Jenis-jenis Teks Prosedur dan Pengertiannya - Pendidikan Penulis Alexander HaryantoEditor Iswara N Raditya
jelaskan pula arti setiap kata tersebut sehingga jelas perbedaanya